Kupas Tuntas Blacklist Bank Di Indonesia

Daftar hitam bank adalah wabah umum yang hampir menjadi momok karena terlalu banyak orang yang tidak memahaminya. Memang blacklist bank-bank tersebut menjadi hal yang harus kita waspadai agar tidak melakukan pelanggaran yang fatal. Terkadang ada orang yang karena tidak mau repot mengurus cicilan, membiarkan agunannya diambil alih oleh bank dengan anggapan bahwa itu bukan masalah besar, lalu mencoba mengambil pinjaman lagi di bank lain. Kemudian mereka kaget karena pengajuan kreditnya terus ditolak dan barulah mereka mendengar istilah “Blacklist Bank”.

Blacklist Bank

Daftar hitam, menurut kamus istilah perbankan populer, Bank Indonesia, adalah daftar nama perorangan nasabah atau perusahaan yang terkena sanksi karena melakukan tindakan tertentu yang membahayakan bank dan masyarakat. Versi Kamus Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menawarkan salah satu contoh yang paling jelas, yaitu orang atau perusahaan yang mengeluarkan cek kosong. Padahal, daftar hitam yang dibuat Bank Indonesia biasanya hanya karena cek kosong. Bank wajib melaporkan penulis cek kosong tersebut, agar namanya masuk dalam Daftar Hitam Nasional (DHN) dengan konsekuensi mulai dari penghapusan rekening hingga tuntutan secara hukum.

Istilah “Blacklist Bank” yang biasa disebarluaskan kepada masyarakat sebenarnya mengacu pada data debitur bermasalah di Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia. SID adalah sistem yang mengumpulkan informasi fasilitas keuangan (kredit) yang selalu dikomunikasikan setiap bulan oleh lembaga keuangan peserta SID, termasuk bank umum, kepada Bank Indonesia sebagai sistem moneter dan pembayaran di Indonesia. Sistem terintegrasi ini memungkinkan bank untuk mengetahui apakah ada tunggakan kredit di bank lain yang meminta kredit secara lokal.

Adanya SID memungkinkan BI Checking oleh lembaga keuangan / bank untuk memastikan kelayakan seseorang untuk menerima kredit. Setelah melakukan BI Checking dan mengetahui riwayat kredit seseorang, lembaga / bank keuangan dapat memutuskan untuk memberikan atau menolak untuk memberikan kredit. Dengan kata lain, bahkan orang dengan riwayat kredit yang buruk memiliki kesempatan untuk diterima untuk aplikasi kredit jika lembaga keuangan / bank tidak berkeberatan dengan hal ini.

Riwayat Kredit Individual

Di SID, lembaga keuangan mengumpulkan data termasuk identitas peminjam (berdasarkan data yang dikirim selama pengajuan kredit), batas pinjaman yang diterima, jangka waktu kredit, dan persyaratan cicilan kredit. Setiap Anda mengambil kredit dari lembaga keuangan anggota SID, baik itu kartu kredit, pinjaman KPR, kredit sepeda motor, dll., Nama Anda akan dimasukkan ke dalam SID. Pada data ini, data Anda akan diikuti dengan informasi yang sesuai dengan persyaratan riwayat kredit Anda.

Ketika pengajuan kredit kita berulang kali ditolak oleh bank, hal pertama yang terdeteksi adalah “Apakah nama saya masuk Blacklist Bank?” Sesuai dengan penjelasan di atas, BI tidak memasukkan nama-nama debitur tertentu dalam daftar hitam bank, kecuali Anda pencipta cek kosong atau sejenisnya. Jika Anda pernah mengambil kredit di masa lalu, yang mungkin saja terjadi ialah: riwayat kredit Anda di SID tidak bagus. Karena hasil BI Checking negatif, lembaga keuangan / bank yang Anda hubungi tidak mau memberikan pinjaman. Sejarah kredit buruk ini tidak selalu salah Anda; mungkin bank tersebut melakukan kesalahan. Oleh karena itu, ada baiknya Anda memeriksa status riwayat kredit Anda dengan SID setelah masa kredit berakhir dan sebelum mengajukan kredit baru.

eddye

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *